Ancaman serangan siber Ransomware WannaCry yang menyerang 150 negara dan 200.000 korban dikategorikan serangan paling parah yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Hal itu disampaikan kepala badan penegak hukum Uni Eropa (Europol) Rob Wainwraight pada Minggu (13/5/2017).

BBC memberitakan serangan siber yang terjadi pada Jumat lalu telah menyerang 200.000 korban di setidaknya 150 negara termasuk Indonesia dan jumlah tersebut dapat meningkat saat orang kembali bekerja pada hari Senin ini.

“Penyebaran malware dengan jangkauan global belum pernah terjadi sebelumnya. Jumlah terakhir lebih dari 200.000 korban di setidaknya 150 negara, dan korban tersebut, banyak di antaranya adalah bisnis, termasuk perusahaan besar,” katanya.

Pakar keamanan siber mengatakan penyebaran Ransomware WannaCry ini berhasil melumpuhkan sistem komputer di pabrik mobil, rumah sakit, toko dan sekolah di beberapa negara.

Dia mengatakan Europol dan agen lainnya belum mengetahui pelaku di balik serangan tersebut. Pelaku juga meminta uang tebusan untuk membuka kata kunci yang melumpuhkan jaringan komputer korban yang dibayar dengan mata uang digital Bitcoin.

“Tentu saja ada jumlah yang diminta, dalam hal ini jumlah yang relatif kecil, 300 dolar AS naik menjadi 600 dolar AS jika Anda tidak membayar dalam tiga hari,” katanya.

Wainwright menambahkan bahwa Europol telah memperhatikan keamanan dunia maya di sektor kesehatan, yang menangani banyak data sensitif.

Sejumlah korban yang telah diserang yakni jaringan komputer di rumah sakit di Inggris, Kementerian Dalam Negeri Rusia, raksasa telekomunikasi Spanyol Telefonica dan perusahaan pengiriman Amerika Serikat FedEx.

Gelombang serangan siber pada Jumat lalu rupanya memanfaatkan kelemahan yang diuraikan dalam dokumen yang bocor dari Badan Keamanan Nasional Amerika Serikat.

Serangan menggunakan teknik yang dikenal sebagai ransomware yang mengunci dokumen pengguna kecuali jika mereka membayar sejumlah uang kepada penyerang dalam bentuk mata uang virtual Bitcoin, seperti diberitakan AFP.